Annual Report F.I.R.E Investment Project 2025

F.I.R.E Investment Project 5 Tahun Kebelakang dan 5 Tahun Kedepan

F.I.R.E Investment Project adalah sebuah personal project untuk mengelola dana pribadi dengan tujuan mencapai kemerdekaan secara financial (F.I) dan kerja sebagai sebuah pilihan (R.E). Personal project ini dimulai tahun 2021 pada masa covid, dan tibalah F.I.R.E Investment Project di tahun ke 5. sejak pertama kali personal project ini dimulai tahun 2020 dengan Net Worth -300 juta, sampai sekarang di tahun 2025 final Net Worth menjadi 1,5 M (kenaikan 6x).
Aset, Liabilitas dan Networth Tahun 2018-2025

Dana Kelola Awal Dana Pensiun dan Dana Pendidikan di periode yang sama yaitu 50 juta menjadi 500 juta (kenaikan (10x). Kinerja tersebut saya rasa cukup memuaskan, namun belum cukup. karena Investment Project ini dimulai dari masa covid dimana peluang investasi ada dimana-mana even kalau boleh bilang, idiot pun bisa untung dari pasar modal. Namun di tahun 2025 ini berbeda, saham-saham dulu yang mengalami penurunan sudah recover dan bahkan ada yang mengalami penuruan laba karena kondisi ekonomi indonesia yang mengalami pelemahan. Maka dari itu kedepan saya rasa perlu Investment Project ini dikelola dengan cara lebih strategis dan profesional, dari sisi analisa saham, capital allocation, portofolio management dan tentu kompetensi saya sebagai individual investor. 

5 tahun kedepan target F.I.R.E Investment adalah :
  • Naik 2x secara Net Worth, dan;
  • Naik 4x secara Dana Kelola Investasi (Dana Pensiun dan Dana Pendidikan).
Target yang realistis dan konservatif, sesuai filososi awal F.I.R.E Investment Project. Berikut laporan dari F.I.R.E Investment Project tahun 2025 :

Kilas Balik Tahun 2020-2025 : Metode Investasi Terus Berkembang, Namun Filosofi Dasar Tidak Berubah.

Pengalaman 5 tahun di Pasar Modal Indonesia membuat saya menyadari kalau setiap periode waktu tertentu rotasi tema dan hype sektoral akan berganti. Dari tahun 2020-2025 saja bisa kita lihat ada beberapa rotasi tema dan hype sektoral :

1. Boom Digital Bank (2021-2022) : Kenaikan harga saham bank buku 1 yang di backdoor listing oleh pengendali baru untuk mengubahnya dari bank konvensional ke bank digital, kenaikan nilai aset dan potensi nasabah baru, serta narasi "digital bank" membuat harga saham bank digital tersebut naik sangat tinggi, walapun tidak diimbangi dengan laba yang dihasilkannya.

2. Comodity Supercycle Batubara (2022-2023) : Dipicu oleh krisis energy global dan lonjakan harga komoditas, dimana pada masa pandemi supply chain batu bara terganggu ditambah lagi perang Rusia x Ukraina. Harga batu bara new castle tembus > USD 400/ton. Harga jual batu bara yang tinggi ini menyebabkan laba emiten batu bara di BEI seperti ITMG, PTBA dan ADRO mengalami kenaikan signifikan, bahkan pada periode waktu itu DPR yang dibagikan mencapai > 80%

3. Saham Konglomerasi (2024-2025 on going) : Kinaikan harga saham akibat kepercayaan terhadap figur pengendalinya seperti Prajogo Pangestu (BRPT, BREN, TPIA, CDIA), Bakrie (BUMI, DEWA), Happy Hapsoro (RATU,RAJA) dan Index Play dari pengendalinya untuk memasukan emiten sahamnya ke global index seperti MSCI dan FTSE, sehingga mendapatkan aliran dana asing masuk. Perusahaan ini bukan saham gorengan, usahanya jelas ada bahkan banyak melakukan corporate action, namun PE-nya ada sudah mencapai ratusan %. Sampai kapan harga-harga saham konglo ini akan naik, hanya waktu yang akan menjawab.

Dari beberapa trend kenaikan harga saham tersebut, hampir tidak ada yang berhasil dimanfaatkan oleh Fire Investment Project untuk menaikan return investasi. Memang sangat disayangkan karena kenaikan saham pada periode trend tersebut bisa naik berlipat-lipat, namun bagi saya "Lebih Baik Ketinggalan Kereta Daripada Kehilangan Uang". Sesuai salah satu filosofi dari Fire Investment Project yaitu investasi berdasarkan tujuan keuangan Fire Investment Project dimana dana yang dikelola adalah Dana Pensiun dan Dana Pendidikan, sehingga pengelolaannya lebih konservatif, tidak mengejar saham hype atapun ekspektasi return yang tinggi. 

Namun disatu sisi bisa dilakukan diversifiksasi dari sebagian kecil pertofolio untuk saham hype tersebut sebagai growth stock dari portofolio, potensi upside yang lebih tinggi daripada downside memberikan potensi return portofolio yang lebih tinggi, Sehingga lesson learn yang bisa diambil selama 5 tahun Fire Investment Project antara lain :

1. Boom Digital Bank tahun 2021-2022 tidak lebih dari sentimen akibat backdoor listing pengendali baru, walaupun kita bukan insider dan bisa beli diharga bawah, setidaknya dari berita backdoor listing tersebut yang tervalidasi dari nilai aset yang diinject, press release dari emiten dan yang tidak kalah penting adalah hype dari berita saham tersebut. Menyikapi saham hype seperti ini masuk dengan sebagian kecil portofolio tidak akan mengancam "heads i win tails i don't lose much" potensi upside tinggi dan kalaupun mengalami ARB inget pasang Stop Loss dan Trailing Stop saja.

2. Comodity Supercycle tahun 2022-2023, Sebenarnya bisa diprediksi dengan mudah dengan melihat Key Indikator seperti harga komoditasnya, harga komoditas selayaknya menjadi leading indikator akan kenaikan laba kedepan, mendahului laporan keuangan. Hal yang sama terjadi di tahun 2025 dimana harga komoditas emas (XAU) dalam 1 tahun naik 65% yang menyebabkan lonjakan laba dan didahului dari kenaikan harga sahamnya seperi Emiten ARCI (600%), BRMS (200%) dan ANTM (150%).

3. Ditengah hype saham konglo tahun 2024-2025, di periode yang sama banyak terdapat emiten saham yang masih sangat undervalue, fundamentalnya kuat dan yang terpenting memberikan cashflow yang dari deviden yield yang tinggi (diatas yield obligasi). Jadi salah satu lesson learn terpenting di tahun 2025 untuk Fire Investment Project adalah di Era Deviden Yield Yang tinggi lebih baik melakukan akumulasi emiten saham yang undervalue dan memberikan cashflow dari deviden dengan metode Deviden Growth Investing. tentu metode ini belum teruji karena saham konglo masih reli dan saham fundamental masih belum recovery dari harga tertingginya, but we will see.

4. And on top of that, kembali lagi filososi Fire Investement adalah berinvestasi bukan mengejar untuk menjadi kaya dengan cepat namun untuk mencapai tujuan keuangan. ~ Raditya Dika

Kinerja Portofolio 2021-2025

Asset Allocation Final Year 2025
Setelah pada Annual Report F.I.R.E Investment Project 2024 dengan tema "We Offcially Debt Freedom", tahun 2025 kami kembali menggambil leverage hutang jangka pendek untuk akuisisi aset properti tanah kosong dengan total 10,3% dari total aset, cukup nyaman dengan perkiraan tahun 2028 sudah bisa lunas. Ada 3 pertimbangan kenapa kami kembali mengambil hutang, yang pertama diversifikasi aset, kedua lokasi dan harga yang sesuai kriteria investasi properti kami dan ketiga kesempatan untuk mendaptkan dana murah dengan bunga 6% menurun. 

5 tahun kedepan target dari asset allocation dari Fire Investment Project ada 2 yaitu :
  • Asset Lancar/Investment Asset = minimal 50%
  • Cash / Setara Cash = 12 x pengeluaran rumah tangga bulanan
Saving Rate dan FI Rate
Saving rate tahun 2025 hampir menyamai kembali saving rate tahun 2020-2021 dan FI Rate menyentuh all time high yaitu 30,3%. Kedepan kami akan coba tetap push Saving rate sampai 50% dan FI Rate sampai 40%

Return Investasi Dana Pensiun dan Dana Pendidikan Vs Return IHSG Periode Tahun 2020 - 2025

Return Investasi Dana Pensiun

1) Berapa kali beat the market (vs IHSG)
Berdasarkan return tahunan 2021–2025:

  • Tanpa dividen: unggul pada 2022 dan 20232 dari 5 tahun

  • Dengan dividen: juga unggul pada 2022 dan 20232 dari 5 tahun

Artinya, baik versi tanpa maupun dengan dividen, dana pensiun lebih sering kalah dari IHSG dibanding mengungguli.


2) Return investasi dengan setoran
Dana kelola meningkat dari sekitar:

  • Rp12,5 juta (2020) menjadi Rp272,5 juta (tanpa dividen)

  • Rp12,5 juta (2020) menjadi Rp285,6 juta (dengan dividen)

Ini setara dengan CAGR dana kelola sekitar:

  • ≈ 85% per tahun (tanpa dividen)

  • ≈ 87% per tahun (dengan dividen)

Namun pertumbuhan ini sangat didominasi oleh setoran tambahan, sehingga tidak mencerminkan performa portofolio secara murni.


3) Return investasi tanpa setoran

Berdasarkan NAB/unit:

  • Tanpa dividen: 1.253 → 1.400
    → CAGR ≈ 2,25% per tahun

  • Dengan dividen: 1.253 → 1.524
    → CAGR ≈ 3,99% per tahun

Return Investasi Dana Pendidikan

1) Berapa kali beat the market (vs IHSG)
Berdasarkan return tahunan 2021–2025:

  • Tanpa dividen: menang vs IHSG pada 2021, 2022, 20233 dari 5 tahun

  • Dengan dividen: menang pada 2021, 2022, 2023, 20254 dari 5 tahun

Artinya, versi dengan dividen jauh lebih konsisten mengungguli pasar dibanding versi tanpa dividen.


2) Return investasi dengan setoran
Dana kelola naik dari sekitar Rp38,9 juta (2020) menjadi:

  • Rp204,5 juta (tanpa dividen)

  • Rp215,1 juta (dengan dividen)

Ini setara dengan CAGR dana kelola sekitar >40% per tahun, namun seperti pada dana pensiun, lonjakan ini sangat dipengaruhi oleh setoran rutin, bukan semata hasil investasi.


3) Return investasi tanpa setoran

Berdasarkan NAB/unit:

  • Tanpa dividen: naik dari 3.888 → 6.102
    → CAGR ≈ 9,5% per tahun

  • Dengan dividen: naik dari 3.891 → 6.495
    → CAGR ≈ 10,8% per tahun


📌 Note Untuk Evaluasi Portofolio

1. Apakah Return Investasi Harus Selalu Beat the Market?

Jawabannya: tidak harus, dan memaksakan hal itu justru bisa berbahaya.

IHSG adalah rata-rata pasar, bukan target personal investor. Ia mencerminkan gabungan berbagai sektor, siklus, dan kondisi makro yang tidak selalu sejalan dengan struktur portofolio individu. Dalam praktiknya, pasar bergerak tidak linear: ada tahun naik tinggi, stagnan, bahkan turun dalam.

Masalah muncul ketika investor menjadikan mengalahkan IHSG setiap tahun sebagai tolok ukur utama. Obsesi ini sering mendorong perilaku berisiko, seperti:

  • mengejar saham agresif di valuasi mahal,

  • mengorbankan margin of safety,

  • terlalu sering transaksi,

  • Mengambil risiko yang tidak disadari.

  • dan sulit menerima periode underperformance sementara.

Benchmark yang lebih sehat dari sekadar IHSG

Daripada bertanya “apakah tahun ini menang IHSG?”, investor sebaiknya bertanya:

  • apakah kualitas bisnis membaik?

  • apakah risiko downside terkendali?

  • apakah proses investasi konsisten?

  • apakah tujuan finansial pribadi tercapai?

Jika jawabannya “ya”, maka kalah IHSG sementara bukan kegagalan struktural.

Dalam pendekatan investasi yang matang, kalah IHSG dalam satu atau dua tahun bukanlah kegagalan, selama proses investasi benar dan risiko tetap terkendali. Banyak investasi yang “terlihat salah” dalam jangka pendek, tetapi “benar” dalam jangka panjang.


2. Target Ideal Investasi Saham menurut JSPortfolio

"TARGET RETURN

Berapa target return yang realistis bagi individual investors di bursa?

The GOAT di bidang investasi, Warren Buffett, mampu menghasilkan CAGR 19.8%.

S&P 500 di periode yang sama (1965 - 2023) mencatat angka CAGR 9.9%.

Setiap $1 di S&P 500 bisa menghasilkan $30-35 ribu; di Berkshire setiap $1 menjadi $4.3 Juta.

CAGR IHSG dalam 25 tahun ini tercatat 11-12%.

Di indonesia, aset tidak berisiko (deposit, SBN) dapat memberi yield 3% - 7%.

Jika Anda tidak mampu menghasilkan return 3%-7% untuk apa capek-capek di bursa saham, yang sangat berisiko? Investasi saja di deposit atau SUN, yang tidak berisiko.

Berisiko-nya saham, menuntut adanya risk premium. Atas alasan ini, target 2X lipat dari return aset tidak berisiko, dapat menjadi target individual investors di bursa saham – atau sekitar 11-12%.


Caption IG:

Target return 11-12% per-tahun itu sekitar 50% dari yang mampu dilakukan oleh investor sekaliber Buffett.

Return 11-12%, bukan hal yang mudah untuk dilakukan oleh individual investors, tetapi masih realistis untuk bisa dicapai.

Apalagi jika emiten membagi dividend cukup baik, setara yield 3-5%. Hanya tinggal 6-8% return lagi, untuk dapat mencapai return yang ditarget-kan.

Bukan berarti, individual investors tidak mungkin mendapat return lebih baik dari 20%. Tetapi return yang baik dan luar biasa itu sering terjadi, jika pasar sedang dilanda malapetaka - dan panik. Baik panik individual, maupun panik berjamaah.

Tentu sangat aneh, jika kita berharap agar malapetaka itu bisa sering terjadi. Manfaatkan saja, jika hal yang jarang terjadi itu datang – sehingga return yang bisa diperoleh lebih besar dari return yang realistis. Consider yourself lucky, jika Anda berkesempatan untuk memanfaatkan hal itu.

Bukan karena Anda lebih pintar berhitung dibandingkan yang lain, tetapi karena perut Anda mungkin lebih tahan terhadap rasa mulas melihat turunnya harga."

KESIMPULAN :

JSPortfolio menempatkan diskusi target return pada konteks yang lebih realistis dan rasional.

Beberapa poin kunci:

  • Investor legendaris seperti Warren Buffett mencatatkan CAGR hampir 20%, tetapi itu bukan patokan wajar bagi investor individu.

  • Indeks besar seperti S&P 500 mencatatkan CAGR sekitar 9–10%.

  • IHSG dalam jangka panjang berada di kisaran 11–12% per tahun.

  • Aset bebas risiko (deposito, SBN) memberi yield sekitar 3–7%.

Dari sini muncul logika sederhana:
jika saham itu berisiko, maka harus ada risk premium.

Karena itu, JSPortfolio menyebut target return 11–12% per tahun sebagai:

  • bukan hal mudah,

  • tidak selalu tercapai tiap tahun,

  • tetapi masih realistis bagi investor individu dalam jangka panjang.

Dividen berperan penting dalam target ini. Jika dividen memberi 3–5%, maka sisa capital gain yang dibutuhkan “hanya” 6–8%. Return di atas 20% memang mungkin, tetapi biasanya muncul saat pasar sedang krisis atau panik—peristiwa langka yang tidak bisa dijadikan harapan rutin.

Intinya, target return harus realistis, bukan ambisius tanpa dasar.


3. Lesson Learned dari Dana Pensiun dan Dana Pendidikan

Ketika konsep di atas diuji pada data nyata, pelajarannya menjadi jauh lebih jelas.

Dana Pensiun

  • Return tanpa dividen sekitar 2,25% per tahun

  • Return dengan dividen sekitar 3,99% per tahun

  • Hanya mengalahkan IHSG 2 dari 5 tahun

  • Pertumbuhan dana kelola terutama berasal dari setoran, bukan kinerja investasi

Lesson learned:
Dana pensiun mengambil risiko saham tanpa memperoleh risk premium yang memadai. Return berada di kisaran aset bebas risiko, sehingga secara rasional tidak memberikan kompensasi atas volatilitas yang ditanggung. Dalam konteks ini, masalah utamanya bukan kalah IHSG, tetapi risiko yang tidak dibayar.


Dana Pendidikan

  • Return tanpa dividen sekitar 9,5% per tahun

  • Return dengan dividen sekitar 10,8% per tahun

  • Lebih sering mengalahkan IHSG dibanding dana pensiun

Lesson learned:
Dana pendidikan menunjukkan bahwa return pasar itu bisa didekati, terutama jika dividen dimanfaatkan dan horizon investasi cukup panjang. Meskipun belum sempurna, kinerjanya sudah mendekati target realistis 11–12% yang dibahas JSPortfolio.


Refleksi Akhir

Investor tidak dibayar untuk selalu terlihat pintar setiap tahun, melainkan untuk bertahan cukup lama agar compounding bekerja.

Mengalahkan IHSG adalah bonus.
Mengelola risiko, ekspektasi, dan proses investasi adalah kewajiban.

TARGET AUM dan PASSIVE INCOME Tahun 2025-2030

Kita breakdown target AUM dan Passsive Income dari tahun 2025 sampai tahun 2030 dengan 2 skenario yaitu tanpa deviden reinvest dan dengan deviden reinvest : 

1. Tanpa Deviden Reinvest

  • Tahun mulai: 2025
  • AUM awal 2025: 500 juta
  • Top up tahunan: 175 juta (mulai 2026)
  • Return investasi: 7%
  • Dividend yield: 8%
  • Dividen tidak direinvest
TahunAUMTop upAUM setelah top upAUM setelah return (7%)AUM akhir tahunDeviden / TahunDeviden / Bulan
2025500 juta0500 juta535 juta535 juta42,8 juta3,6 juta
2026535 juta175 juta710 juta760 juta760 juta60,8 juta5,1 juta
2027760 juta175 juta935 juta1.001 juta1.001 juta80,1 juta6,7 juta
20281.001 juta175 juta1.176 juta1.258 juta1.258 juta100,6 juta8,4 juta
20291.258 juta175 juta1.433 juta1.534 juta1.534 juta122,7 juta10,2 juta
20301.534 juta175 juta1.709 juta1.829 juta1.829 juta146,3 juta12,2 juta

    2. Dengan Deviden Reinvest

    TahunAUMTop upAUM setelah top upAUM setelah return (7%)AUM + return + Deviden ReinvestDeviden / TahunDeviden / Bulan
    2025500 juta0500 juta535 juta578 juta42,8 juta3,6 juta
    2026578 juta175 juta753 juta805 juta870 juta64,4 juta5,4 juta
    2027870 juta175 juta1.045 juta1.118 juta1.208 juta89,4 juta7,5 juta
    20281.208 juta175 juta1.383 juta1.479 juta1.598 juta118,3 juta9,9 juta
    20291.598 juta175 juta1.773 juta1.897 juta2.048 juta151,7 juta12,6 juta
    20302.048 juta175 juta2.223 juta2.379 juta2.569 juta190,3 juta15,9 juta

    Demikian Annual Report F.I.R.E Investment Project 2025 kali ini, sudah dilakukan evaluasi dan juga target kedepannya, tahun 2025 ini merupakan kunci bagaimana 5 tahun kedepan Personal Project ini berhasil mencapai tujuannya, wish all the best and wish me luck.

    Comments

    Follow saya di media sosial

    Instagram Twitter YouTube
    Dapatkan update artikel terbaru dari email anda:

    Artikel Populer

    Arti "Priced In" Dalam Saham

    Pengalaman Tes MDP Factory PT Mayora Indah Tbk

    Menghitung Dana Pendidikan PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan Kuliah

    SSSG Dalam Bisnis Sektor Retail