📈 Berinvestasi Jangka Panjang dengan Metode Dividend Growth Investing

Tidak semua perusahaan membagikan dividen kepada pemegang saham. Perusahaan yang sedang mengalami kerugian umumnya tidak memiliki kemampuan finansial untuk membagikan dividen. Selain itu, perusahaan yang berada dalam fase pertumbuhan bisnis yang pesat sering kali memilih untuk menginvestasikan kembali keuntungan guna mendukung ekspansi usaha, sehingga tidak membagikan dividen meskipun mencatatkan laba.

Di sisi lain, terdapat perusahaan-perusahaan yang secara konsisten membagikan dividen setiap tahun. Bahkan, beberapa di antaranya memiliki rekam jejak panjang tanpa pernah absen membagikan dividen selama puluhan tahun. Umumnya, perusahaan seperti ini telah berada pada tahap bisnis yang mapan, memiliki arus kas stabil, serta menerapkan kebijakan dividen yang jelas dan konsisten.

Perusahaan dengan karakteristik tersebut sangat sejalan dengan strategi Dividend Growth Investing, yaitu pendekatan investasi jangka panjang yang menekankan konsistensi dan pertumbuhan dividen.


Apa Itu Dividend Growth Investing?

📌 Definisi Dividend Growth Investing

Dividend Growth Investing adalah strategi investasi yang berfokus pada pemilihan saham-saham perusahaan yang membagikan dividen secara teratur dan terus meningkat dari waktu ke waktu. Fokus utama strategi ini bukan sekadar mengejar dividen besar, melainkan memastikan pertumbuhan dividen yang stabil dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Dividen yang konsisten dan meningkat memiliki peran penting dalam membantu investor melawan inflasi serta menjadi sumber pendapatan rutin yang relatif dapat diandalkan.


Sumber Imbal Hasil dalam Dividend Growth Investing

💰 Dua Jenis Imbal Hasil

Dengan menerapkan strategi Dividend Growth Investing, investor berpotensi memperoleh dua jenis imbal hasil, yaitu:

  1. Dividen, sebagai pendapatan tunai yang dibagikan secara berkala.

  2. Capital Gain, yaitu kenaikan harga saham seiring dengan pertumbuhan nilai perusahaan.

Pendekatan ini membuat pertumbuhan portofolio investasi tidak hanya bergantung pada kenaikan harga saham semata.


📊 Stabilitas Pertumbuhan Portofolio

Besarnya dividen umumnya bergantung pada kinerja bisnis perusahaan, yang relatif lebih mudah diprediksi dibandingkan pergerakan harga saham di pasar. Dengan demikian, pertumbuhan portofolio menjadi lebih stabil dari waktu ke waktu karena tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga saham.

Selain itu, dividen memberikan fleksibilitas bagi investor untuk mereinvestasikannya ke instrumen yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuangan masing-masing.


Karakteristik Saham Dividend Growth

4.1 🏢 Kinerja Keuangan yang Solid

Perusahaan yang membagikan dividen secara konsisten dan meningkat umumnya memiliki kinerja keuangan yang solid, arus kas yang sehat, serta manajemen yang disiplin dalam mengelola bisnisnya. Karakteristik ini mencerminkan kualitas fundamental perusahaan yang baik.


🛡️ Ketahanan terhadap Fluktuasi Pasar

Saham-saham yang memiliki rekam jejak dividen yang konsisten cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi pasar. Hal ini membantu investor mengurangi risiko investasi, khususnya pada kondisi pasar yang volatile.


Daya Tarik Utama Dividend Growth Investing

🔄 Efek Compounding melalui Reinvestasi Dividen

Salah satu daya tarik utama dari strategi Dividend Growth Investing adalah efek compounding (pelipatgandaan). Apabila dividen yang diterima digunakan kembali untuk membeli saham yang sama, maka jumlah saham yang dimiliki akan terus bertambah.


🚀 Pertumbuhan Nilai Investasi yang Lebih Cepat

Dengan bertambahnya jumlah saham, dividen yang diterima di masa mendatang juga akan menjadi semakin besar. Jika dilakukan secara konsisten dan disiplin, efek compounding akan semakin kuat sehingga nilai investasi dapat tumbuh lebih cepat dalam jangka panjang.

Ilustrasi Dividend Growth Investing: Dua Skenario Compounding

Untuk memahami bagaimana pertumbuhan dividen dan reinvestasi dividen memengaruhi hasil investasi jangka panjang, berikut ilustrasi dua skenario dengan asumsi yang sama, tetapi perlakuan dividen yang berbeda.


📌 Asumsi Dasar

  • Kepemilikan awal: 10 lot saham (1.000 lembar)

  • Dividen awal: Rp100 per saham

  • Pertumbuhan dividen: 8% per tahun

  • Periode investasi: 10 tahun

  • Harga saham awal (skenario 2): Rp2.000 per saham

  • Pertumbuhan harga saham (skenario 2): 8% per tahun


🔹 Skenario Pertama: Tanpa Reinvestasi Dividen

Pada skenario ini, investor menerima dividen sebagai pendapatan rutin dan tidak menggunakannya untuk membeli saham tambahan.

KeteranganNilai
Jumlah saham1.000 lembar
Dividen awal per sahamRp100
Dividen tahun pertamaRp100.000 per tahun
Dividen per saham tahun ke-10± Rp215,9
Total dividen tahun ke-10± Rp215.900 per tahun
Penambahan modal baruTidak ada

Inti skenario pertama:

  • Dividen meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun

  • Pertumbuhan dividen terjadi tanpa menambah investasi baru

  • Cocok bagi investor yang mengutamakan pendapatan rutin


🔹 Skenario Kedua: Reinvestasi Dividen (Efek Compounding)

Pada skenario ini, investor tidak mengambil dividen sebagai pendapatan, melainkan menggunakannya kembali untuk membeli saham sehingga jumlah saham bertambah.

KeteranganNilai
Harga saham awalRp2.000
Pertumbuhan harga saham8% per tahun
Dividen tahun ke-10± Rp339,45 per saham
Kenaikan dibanding skenario pertama± 57% lebih tinggi
Perbandingan dengan dividen awal± 3 kali lipat
Pendapatan dividen rutinTidak diterima sementara

Inti skenario kedua:

  • Dividen akhir lebih tinggi dibandingkan skenario tanpa reinvestasi

  • Efek compounding bekerja lebih kuat karena jumlah saham bertambah

  • Cocok bagi investor dengan horizon jangka panjang dan belum membutuhkan cash flow

Keterbatasan dan Risiko dalam Dividend Growth Investing

Walaupun memiliki banyak kelebihan, seperti halnya strategi investasi lainnya, Dividend Growth Investing juga memiliki beberapa keterbatasan dan risiko yang perlu dipahami oleh investor sejak awal.


⚠️ Potensi Perlambatan Pertumbuhan Bisnis

Ketika perusahaan membagikan dividen, sebagian dari laba bersih yang diperoleh tidak lagi digunakan untuk ekspansi bisnis atau penambahan modal kerja. Kondisi ini secara teoritis dapat mengurangi kecepatan pertumbuhan bisnis perusahaan.

Namun demikian, pada praktiknya banyak perusahaan tidak membutuhkan seluruh laba bersih untuk membiayai ekspansi. Selama perusahaan masih memiliki arus kas yang kuat dan struktur permodalan yang sehat, dividen yang dibagikan tidak serta-merta mengganggu potensi pertumbuhan perusahaan di masa mendatang.


⚠️ Risiko Penurunan Dividen

Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah penurunan dividen ketika kondisi bisnis perusahaan sedang kurang baik. Tidak ada perusahaan yang sepenuhnya kebal terhadap siklus bisnis. Bahkan perusahaan dengan kinerja terbaik sekalipun tetap memiliki kemungkinan mengalami penurunan laba bersih, meskipun hanya bersifat sementara.

Ketika laba bersih menurun, dividen yang dibagikan kepada investor juga berpotensi ikut menurun. Oleh karena itu, investor tidak boleh berasumsi bahwa dividen akan selalu naik tanpa pengecualian.

Pada bagian selanjutnya, risiko ini dapat dikelola melalui strategi pemilihan saham dan diversifikasi portofolio yang tepat.

Mengukur Apakah Dividend Growth Investing Mampu Mengalahkan Inflasi

Pertanyaan penting berikutnya adalah:
bagaimana cara mengetahui apakah strategi Dividend Growth Investing mampu mengalahkan inflasi?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, penting untuk dipahami bahwa terdapat dua pilihan utama dalam memanfaatkan dividen yang kita terima:

  1. Dividen digunakan sebagai pendapatan (dikonsumsi)

  2. Dividen direinvestasikan untuk membeli kembali saham

Kedua pendekatan ini akan dibahas melalui dua studi kasus berikut.


Studi Kasus 1: Dividen sebagai Sumber Pendapatan

🎯 Target Pendapatan dan Tantangan Inflasi

Misalkan kita membutuhkan pendapatan sebesar Rp120 juta per tahun, dan kita berharap pendapatan tersebut terus meningkat minimal sejalan dengan laju inflasi, agar daya beli tidak menurun.

Dengan asumsi laju inflasi sekitar 5,25% per tahun (berdasarkan data historis), maka pendapatan kita juga harus tumbuh setidaknya sebesar angka tersebut, atau lebih tinggi.


💵 Perbandingan dengan ORI / SRI

Jika kita memilih berinvestasi pada ORI atau SRI dengan imbal hasil sekitar 6% per tahun, maka dana yang dibutuhkan untuk memperoleh pendapatan Rp120 juta per tahun adalah sekitar:

  • Rp2 miliar

Namun, imbal hasil dari ORI/SRI bersifat tetap setiap tahun, sehingga tidak memberikan pertumbuhan pendapatan yang memadai untuk melawan inflasi.


📊 Dividen Saham sebagai Alternatif Pendapatan

Jika kita mengandalkan dividen saham, maka dana yang dibutuhkan sangat bergantung pada dividend yield. Namun perlu diingat:

  • Dividen dikenakan pajak 10%

  • Untuk memperoleh pendapatan bersih Rp120 juta, dividen kotor yang dibutuhkan adalah sekitar Rp133 juta

Dengan asumsi:

  • Dividend yield 3% → dana ± Rp4,4 miliar

  • Dividend yield 5% → dana ± Rp2,6 miliar

  • Dividend yield 9% → dana ± Rp1,4 miliar

👉 Semakin tinggi dividend yield, semakin kecil dana yang dibutuhkan. Namun, dividend yield tinggi tidak selalu berarti lebih baik.


⚠️ Mengapa Dividend Yield Tinggi Tidak Selalu Ideal

Agar dividen dapat terus tumbuh, maka laba bersih perusahaan juga harus bertumbuh. Untuk menumbuhkan laba, perusahaan biasanya perlu:

  • Melakukan ekspansi bisnis

  • Meningkatkan biaya pemasaran dan operasional

Jika sebagian besar laba bersih dibagikan sebagai dividen, maka ada risiko dana untuk ekspansi menjadi terbatas, sehingga pertumbuhan laba di masa depan melambat. Inilah alasan mengapa dividend yield yang terlalu tinggi tidak selalu optimal untuk strategi jangka panjang.

Deviden Sebagai Kontributor Pertumbuhan Investasi (Studi Kasus SMSM)

Kita dapat melakukan sebuah simulasi investasi untuk melihat bagaimana kinerja strategi dividend reinvestment. Misalnya, pada akhir tahun 2018 kita berinvestasi pada saham SMSM sebesar Rp10.000.000 dengan harga pembelian Rp1.400 per saham, yang merupakan harga penutupan akhir tahun tersebut.

Dengan nilai investasi tersebut, jumlah saham yang berhasil dibeli adalah sekitar 7.142 saham (Rp10.000.000 ÷ Rp1.400).

Pada tabel di bawah ini, telah disajikan data harga saham dan dividen per saham SMSM selama lima tahun terakhir. Dalam simulasi ini, diasumsikan bahwa seluruh dividen yang diterima setiap tahun digunakan kembali untuk membeli saham SMSM, sehingga jumlah saham yang dimiliki akan terus bertambah dari waktu ke waktu.

Untuk menjawab pertanyaan ini, mari melihat data historis PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM).

TahunHarga Saham (Rp)Dividen per Saham (Rp)Dividend YieldCapital GainTotal ReturnNilai Investasi Akhir Tahun (Rp)
20191.490584,1%6,43%10,57%11.057.143
20201.385594,0%-7,05%-3,09%10.715.781
20211.360705,1%-1,81%3,25%11.063.948
20221.535856,3%12,87%19,12%13.179.114
20231.9951056,8%29,97%36,81%18.030.058

CAGR (5 tahun): 12,5% per tahun

Sumber: Laporan Keuangan SMSM 2019–2023 & Yahoo Finance, diolah

🔍 Kesimpulan Ilustrasi Investasi Saham SMSM

Berdasarkan simulasi historis yang telah dibahas, dengan mereinvestasikan dividen yang diterima, nilai investasi pada saham PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) berkembang menjadi sekitar Rp18,03 juta pada akhir tahun ke-5 dari investasi awal Rp10 juta. Hal ini setara dengan imbal hasil rata-rata (CAGR) sebesar 12,5% per tahun.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, imbal hasil minimum yang diharapkan dari investasi saham—sebagai kompensasi atas risiko yang lebih tinggi dibandingkan instrumen pendapatan tetap—adalah sekitar 11% per tahun, yaitu imbal hasil ORI/SRI ditambah premi risiko sebesar 5%. Dengan demikian, kinerja investasi SMSM selama lima tahun terakhir dapat dikategorikan cukup memuaskan, karena berhasil melampaui target imbal hasil minimum tersebut.

Sebagai catatan tambahan, imbal hasil tahunan rata-rata SMSM dalam periode yang sama juga lebih tinggi dibandingkan imbal hasil tahunan rata-rata IHSG, yang hanya sekitar 3,2% per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kombinasi pertumbuhan dividen yang konsisten, reinvestasi dividen, dan kinerja harga saham mampu menghasilkan imbal hasil total yang kompetitif, sekaligus memperkuat argumen bahwa Dividend Growth Investing dapat menjadi strategi yang efektif dalam jangka panjang apabila diterapkan pada perusahaan dengan fundamental yang kuat.

Tanggal Penting dalam Pembagian Dividen

Ketika sebuah perusahaan mengumumkan pembagian dividen, terdapat dua tanggal penting yang wajib diperhatikan oleh investor.

📅 Cum Date (Cumulative Date)

Cum Date adalah tanggal terakhir di mana investor masih berhak menerima dividen.
Jika investor membeli saham sebelum atau pada tanggal cum date, maka investor tersebut berhak mendapatkan dividen yang diumumkan perusahaan.


📅 Ex Date (Ex-Dividend Date)

Ex Date adalah satu hari bursa setelah cum date.
Jika investor membeli saham pada ex date atau setelahnya, maka investor tidak lagi berhak menerima dividen.

Pada ex date inilah terjadi penyesuaian harga saham.


Mengapa Harga Saham Turun pada Ex Date

Secara teoritis, harga saham akan turun sebesar nilai dividen yang dibagikan pada saat ex date. Penurunan ini merupakan penyesuaian yang wajar, karena:

  • Kas perusahaan berkurang, akibat dibagikan kepada pemegang saham

  • Nilai aset dan ekuitas perusahaan menurun secara akuntansi

Namun, penting untuk dipahami bahwa nilai total kekayaan investor tidak berubah. Kas yang sebelumnya berada di perusahaan—yang secara ekonomi memang milik pemegang saham—berpindah langsung ke rekening investor dalam bentuk dividen.


Apakah Dividen Membuat Investor Lebih Kaya?

Secara jangka pendek dan matematis, jawabannya adalah tidak.
Inilah yang sering menjadi dasar argumen bahwa dividen tidak menciptakan nilai tambah bagi investor.

Dalam teori keuangan modern, pandangan ini dirumuskan secara formal dalam Dividend Irrelevance Theory yang dikemukakan oleh Modigliani dan Miller pada tahun 1961.
Teori ini logis secara matematis, namun kurang realistis dalam praktik dunia nyata.


Mengapa Dividen Tetap Relevan bagi Investor

Walaupun secara teori dividen bersifat netral, dalam praktik terdapat beberapa alasan kuat mengapa dividen memberikan manfaat nyata bagi investor.


💵 Dividen sebagai Arus Kas Nyata

Dividen adalah arus kas riil yang langsung masuk ke rekening investor, bukan keuntungan potensial yang belum terealisasi seperti capital gain.

Keberadaan dividen memberikan fleksibilitas, karena investor dapat:

  • Mengkonsumsinya, atau

  • Mereinvestasikannya, baik ke saham yang sama maupun instrumen lain

Bagi investor jangka panjang, pensiunan, atau mereka yang ingin hidup dari portofolio, dividen berperan sebagai penghasilan pasif yang berkelanjutan.


🏢 Konsistensi Dividen sebagai Indikator Kualitas Bisnis

Perusahaan yang mampu meningkatkan dividen secara konsisten selama bertahun-tahun umumnya memiliki:

  • Laba bersih dan arus kas yang stabil

  • Manajemen dengan kemampuan alokasi modal yang baik

  • Moat bisnis (keunggulan kompetitif jangka panjang) yang telah teruji

Makna dari konsistensi pertumbuhan dividen bukan sekadar membagikan uang, melainkan menjadi cerminan kekuatan dan kualitas bisnis perusahaan.
Dividen memang bukan satu-satunya indikator perusahaan yang baik, tetapi pada perusahaan yang berkualitas, dividen yang berkelanjutan berfungsi sebagai konfirmasi atas kualitas tersebut.


🔄 Dividen Mengaktifkan Efek Compounding

Ketika dividen direinvestasikan kembali ke saham yang sama atau saham berkualitas lainnya, investor akan memperoleh:

  • Pertumbuhan nilai investasi

  • Pertumbuhan pendapatan dividen

Setiap tahun jumlah saham bertambah, dan setiap saham menghasilkan dividen yang lebih besar, sehingga tercipta efek compounding (pelipatgandaan) yang semakin kuat dalam jangka panjang.

Sampai pada titik ini, jelas bahwa dividen tetap relevan dan bernilai bagi investor, khususnya dalam kerangka Dividend Growth Investing.


Menyikapi Penurunan Harga Saham Setelah Cum Date (Dividend Trap)

Pertanyaan yang sering muncul adalah:
bagaimana seorang dividend growth investor menyikapi penurunan harga saham setelah cum date?

Penurunan harga saham pada ex date pada dasarnya hanyalah penyesuaian teknis jangka pendek, bukan indikasi memburuknya kualitas bisnis perusahaan.

Dalam Dividend Growth Investing, investor:

  • Tidak membeli saham hanya untuk dividen sesaat

  • Berfokus pada pertumbuhan laba, pertumbuhan dividen, dan potensi pertumbuhan harga saham dalam jangka panjang

Selain itu, imbal hasil dividen lebih mudah diprediksi dibandingkan kenaikan harga saham, sehingga membantu menciptakan kinerja portofolio yang lebih stabil.

Bahkan, bagi investor jangka panjang, ex date dapat menjadi peluang:

  • Menambah saham pada harga yang sudah terkoreksi

  • Mendapatkan valuasi yang lebih menarik

  • Meningkatkan dividend yield jangka panjang

Studi Kasus Lanjutan: Perjalanan Investasi Dividend Growth pada Saham BJTM

Untuk memperdalam pemahaman mengenai Dividend Growth Investing dalam praktik jangka panjang, berikut ditampilkan contoh kasus investasi pada saham PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dengan asumsi dividen direinvestasikan secara konsisten.

Ilustrasi ini memperlihatkan bagaimana dividen, harga saham, dan reinvestasi saling berinteraksi dalam berbagai kondisi pasar.

TahunHarga Awal SahamJml Saham Awal TahunSaldo Awal TahunDPSDividenTgl Pembelian TambahanHarga Beli TambahanJumlah TambahanJml Saham Akhir TahunHarga Akhir TahunSaldo Akhir Tahun
2013380263.10099.978.00039,7410.455.5943-May-1343024.300287.400375107.775.000
2014375287.400107.775.00046,6111.671.31414-May-1441827.900315.300460145.038.000
2015460315.300145.038.00041,8613.198.4888-May-1548027.200342.500437149.759.000
2016437342.500149.759.00043,0014.736.1003-Mar-1642334.800377.300570215.175.000
2017570377.500215.175.00043,6416.474.1002-Mar-1757028.900406.400710288.544.000
2018710406.400288.544.00044,1017.922.24022-Mar-1864028.000434.400690299.736.000
2019690434.400299.736.00045,6119.812.98429-May-1961032.400466.800685319.758.000
2020685466.800319.758.00048,2022.499.76020-May-2048046.800513.600680349.248.000
2021680513.600349.248.00048,8525.089.36028-May-2174033.900547.500750410.625.000
2022750547.500410.625.00052,1128.530.22514-Apr-2275537.700585.200710415.492.000
2023710585.200415.492.00053,0931.068.26812-May-2364548.100633.300625395.812.500
2024625633.300395.812.50054,3934.445.1877-Mar-2460057.400690.700500345.350.000

📈 Kinerja Jangka Panjang: CAGR Mengalahkan Pasar

Dengan menginvestasikan kembali seluruh dividen, investasi BJTM menghasilkan CAGR sebesar 13,3% per tahun. Angka ini tergolong sangat baik, mengingat pada periode yang sama CAGR IHSG hanya sekitar 4,9% per tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Dividend Growth Investing dapat mengalahkan pasar

  • Terutama ketika dilakukan secara konsisten dan disiplin

  • Bahkan pada saham yang tidak selalu mengalami kenaikan harga secara mulus


Ketika Harga Saham Turun: Ujian bagi Investor Dividend Growth

📉 Tahun 2023: Penurunan Harga Saham

Pada tahun 2023, harga saham BJTM turun cukup dalam, dari kisaran 710 menjadi 625.
Walaupun demikian:

  • DPS BJTM tetap meningkat menjadi Rp53,09 per saham

  • Dividen yang diterima meningkat menjadi sekitar Rp31.068.268

Namun, karena harga saham turun, nilai investasi ikut menurun menjadi sekitar Rp395.812.500.
Tahun ini menjadi tahun pertama terjadinya penurunan nilai investasi secara nominal.


📉 Tahun 2024: Tekanan Harga Berlanjut

Pada tahun 2024, tekanan harga saham BJTM berlanjut lebih dalam, dengan harga berada di sekitar Rp500 pada saat tulisan ini dibuat.

Walaupun:

  • Dividen yang diterima cukup besar, sekitar Rp34.445.187

Namun dividen tersebut belum mampu menahan penurunan nilai investasi, yang turun dari Rp395.812.500 menjadi Rp345.350.000.

Kondisi ini menegaskan bahwa dividen bukanlah pelindung absolut terhadap penurunan harga saham, khususnya dalam jangka pendek.


Pelajaran Penting dari Perjalanan Investasi Saham Dividen

Dari studi kasus BJTM, terdapat beberapa pelajaran kunci yang sangat relevan bagi investor Dividend Growth Investing:

🔄 Dividen Sangat Efektif di Pasar Sideways

Hasil yang cukup baik terjadi ketika pasar tidak mengalami kenaikan signifikan, sehingga:

  • Dividen dapat digunakan untuk membeli saham tambahan dalam jumlah besar

  • Efek compounding bekerja lebih optimal

Sebaliknya, pada kondisi pasar bullish, peran dividen relatif lebih kecil, karena imbal hasil akan lebih banyak didorong oleh kenaikan harga saham. Pada kondisi tersebut, ada kemungkinan imbal hasil investasi dividen tertinggal dibandingkan pasar.


⚠️ Dividend Yield Tinggi Tidak Menjamin Keamanan

Walaupun dividend yield tetap, jika harga saham terus menurun, maka:

  • Nilai nominal dividen yang diterima bisa ikut menurun

  • Total imbal hasil investasi bisa sangat rendah, bahkan negatif

Oleh karena itu, dalam berburu saham dividen, investor tidak boleh hanya terpaku pada dividend yield.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan:

  • Prospek bisnis perusahaan masih baik

  • Laba perusahaan berpotensi terus bertumbuh

Karena pada akhirnya, dividen hanya bisa terus meningkat jika laba perusahaan juga meningkat. Jika laba menurun, maka dividen dan kualitas investasi akan ikut tertekan.

Simulasi Investasi Saham BMRI VS BJTM (2012–2023)

Jika kita melakukan simulasi yang sama pada saham BMRI, dengan modal Rp100 juta yang diinvestasikan pada akhir tahun 2012, maka nilai investasi tersebut akan meningkat menjadi sekitar Rp430 juta pada akhir tahun 2023. Artinya, dalam kurun waktu sekitar 11 tahun, nilai investasi bertumbuh sekitar 4,3 kali lipat, yang setara dengan CAGR sebesar 14,2%. Hasil ini menunjukkan bahwa BMRI mampu memberikan imbal hasil yang lebih besar, meskipun selisihnya relatif tipis jika dibandingkan dengan BJTM.

Tabel Rangkuman Simulasi Investasi Saham BMRI vs BJTM

(Modal awal Rp100 juta, periode 2013–2023, dividen direinvestasikan)

IndikatorBMRIBJTM
Price CAGR11,9%5,2%
EPS CAGR11,7%5,9%
DPS CAGR19,5%2,9%
Payout Ratio (2023)60,0%51,7%
Average Dividend Yield3,4%8,1%
Hasil Investasi 10 Tahun
(modal awal Rp100 jt)
Rp429.550.000Rp395.812.500
#Baggers4,3x4,0x
Investment CAGR14,2%13,3%

Sumber: Laporan Keuangan BMRI & BJTM 2013–2023, KSEI, dan Yahoo Finance (diolah)


📝 Penjelasan Sesuai Kutipan

Dengan modal Rp100 juta pada akhir tahun 2012, investasi pada saham BMRI berkembang menjadi sekitar Rp430 juta pada akhir tahun 2023, atau sekitar 4,3 kali lipat, yang setara dengan CAGR 14,2% per tahun.

Artinya, kita bisa memperoleh imbal hasil yang lebih besar dari BMRI, walaupun selisihnya relatif tipis jika dibandingkan dengan BJTM yang menghasilkan CAGR 13,3%.


🔍 Perbedaan Karakter Imbal Hasil BMRI dan BJTM

Jika kita memegang saham BMRI, imbal hasil yang diperoleh cenderung lebih berimbang, yaitu berasal dari:

  • Kenaikan harga saham (capital gain), dan

  • Dividen

Hal ini tercermin dari:

  • Price CAGR BMRI yang tinggi (11,9%)

  • EPS CAGR yang solid (11,7%)

  • DPS CAGR yang juga kuat (19,5%), walaupun dividend yield relatif lebih rendah

Sebaliknya, pada saham BJTM, imbal hasil investasi sangat bergantung pada dividen dan reinvestasinya. Walaupun:

  • Dividend yield BJTM tinggi (8,1%)

  • Namun pertumbuhan dividen (DPS CAGR 2,9%) relatif rendah

Hasil investasi BJTM tetap cukup baik dalam 10 tahun terakhir karena reinvestasi dividen memegang peranan yang sangat penting terhadap pertumbuhan nilai investasi secara keseluruhan.

Dengan memanfaatkan dividen secara konsisten untuk menambah saham BJTM pada distribution date, nilai investasi meningkat sekitar 4 kali lipat, dari Rp100 juta menjadi sekitar Rp395 juta, atau setara dengan CAGR 13,3% per tahun.


⚖️ Dividen vs Harga Saham: Perspektif Risiko

Beberapa poin penting yang perlu diperhatikan:

  • Besarnya dividen berada dalam kendali manajemen, dengan persetujuan RUPS, dan sangat bergantung pada kinerja operasional bisnis

  • Harga saham berada di luar kendali investor, dan dalam jangka pendek bisa tidak sejalan dengan kinerja bisnis

  • Oleh karena itu, unsur ketidakpastian imbal hasil dari harga saham lebih tinggi dibandingkan imbal hasil dari dividen

Bagi sebagian investor, kondisi ini menjadi pertimbangan penting:

  • Ada investor yang lebih fokus pada pertumbuhan laba dan harga saham

  • Ada pula investor yang lebih fokus pada stabilitas dividen

Tidak ada pendekatan yang sepenuhnya benar atau salah, karena strategi investasi harus disesuaikan dengan kebutuhan, tujuan, dan profil risiko masing-masing investor.

🏁 Penutup

Perjalanan kita dalam berinvestasi bukanlah sebuah sprint, melainkan maraton jangka panjang yang menuntut kedisiplinan, kesabaran, dan keyakinan. Investasi sering kali merupakan jalur yang sunyi dan bahkan terlihat membosankan bagi sebagian orang. Namun justru di sanalah letak kekuatannya, apabila kita memahami esensinya, yaitu membangun portofolio yang terus tumbuh secara stabil dan berkelanjutan.

Setiap investor tentu memiliki tujuan yang berbeda-beda. Namun, apabila tujuan utama Anda adalah kemandirian finansial yang bertahan lama, maka pendekatan Dividend Growth Investing layak untuk dipertimbangkan secara serius. Strategi ini tidak menuntut kita untuk selalu benar dalam memprediksi pasar, melainkan mendorong kita untuk memilih bisnis yang berkualitas dan membiarkan waktu bekerja.

Kita tidak perlu menjadi ahli untuk memulainya. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk terus belajar, kemampuan menilai bisnis secara objektif, serta kesabaran untuk konsisten dalam menjalankan strategi yang telah dipilih.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, melainkan apakah kita telah melangkah ke arah yang benar dan mampu bertahan hingga tujuan tercapai.

Semoga kita semua dapat menjadi investor yang lebih baik.

Comments

Follow saya di media sosial

Instagram Twitter YouTube
Dapatkan update artikel terbaru dari email anda:

Artikel Populer

SSSG Dalam Bisnis Sektor Retail

Menghitung Dana Pendidikan PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan Kuliah

Soal Pengetahuan Umum Untuk Psikotest

Pengalaman Tes MDP Factory PT Mayora Indah Tbk

Valuasi Saham Dengan Grafik PER dan PBV Standar Deviation Band